Kamis, 07 Juni 2012

Kerapuhanku


Ku terduduk dalam diam
Di tengah hutan kering dan gelap
Tertatap ruang nan hampa . . .  Kosong . . .
Tak ada lagi sayup-sayup irama angin nan syahdu,   gemercik air yang meresapi dalamnya pusaran danau,       dan tarian dedaunan nan gemulai

Kini . . .  
Diriku bagaikan dahan rapuh yang akan jatuh dari pijakannya
hatiku bagaikan bangkai yang terkoyak, tercabik-cabik dan terhempas
jari-jemariku menangis terkais diantara belitas desis

hari ini. . .
fatamorgana tersenyum mempertunjukkan keindahannya kepada setiap insan
tapi. .     aku . . 
tak dapat melihat kupu-kupu yang bebas dari kepompongnya
tak dapat lagi mendengar desahan angin nan merasuk kalbu
karena diriku tlah terperangkap di tengah kejamnya kehidupan. .

Puisi alam


Kemurkaan Alam

Kutermangu dalam kelam
Dalam diam kupahami
Rembulan tampak mendung merenungi bumi
Seberkas haru larut, terbalut, kalut dalam kabut, dan takut
Terpaku ratap meratap jiwa-jiwa nan serakah
Cakrawala mulai meronta, menahan keserakahan birahi
Tiada ketenangan, tiada ketentraman
Hanya tersisa percikan kekalutan nan mulai meraja

Bumi tlah telah lelah memopoh rasa sabar akan keserakahan-keserakahan itu
Kini ia bergerak selaksa murka
Isak tangisnya porak-porandakan semua
Sekejap ia melahap semuanya hanya dengan sebuah irama alam nan memekik sukma

Kini tak ada lagi hamparan hijau tergelar indah
Cakrawala nan tampil cemerlang, berselendang pelangi nan membumbui kemegahan alam
Gema alunan nyanyian burung nan syahdu
Dan mesranya sapaan angin nan mendamaikan sukma

Kini nan tersisa hanyalah hamparan hitam, kelam, kelabu, mengisyaratkan kegersangan
Cakrawala nan gelap, berhiaskan gemuruh-gemuruh kejam
Alunan perih tangisan jiwa-jiwa nan kehilangan
Dan desiran angin lembab disertai aroma anyir darah nan bertumpahan dan berserakan
Kawan…
Adakah sukmamu tergelitik akan semua ini ?
Masihkah kau teguhkan keserakahan birahimu ?