Rintik-rintik hujan m’pertegas jarak rinduku
Berlari dengan langkah-langkah kecil
Ada decak ... ada ragu ...
Ada gontai dari langkah kecil yang tak tentu
Mengejar hembusan nafas harum nan lembutmu
Dan kala dendam rindu ini datang mendera
Bayangmu sesaat memaku segala gerakku
Mengalihkan mataku pada indah sudut matamu
Yang menampakkan butiran-butiran kasih sayang
Rinduku ...
Bersangkar dalam hati yang temaram
Melagukan merdunya kepedihan
Bagian terindah dari kebahagiaan
Di sini ...
Aku menjadi pedih !
Mencari cahaya yang telungkup di balik bukit
Memutuskan satu nadi waktu
Menanti jiwamu yang tak ragu ...
Rinduku ... hanya untukmu
Minggu, 26 Desember 2010
Sahabat
Hujan turun rintik-rintik
Mengguyur kota ini senja tadi
Seakan mengiringi hatiku yang pilu
Namun, tak mampu menyirami hatiku nan kering karena duka
Sepertinya ada kemarau panjang dihatiku
Sepanjang jarak dan waktu
Yang mengiringi perpisahan ini
Hari ini waktu tlah mengantarkan kita pada suatu titik pemahaman
Bahwa di dunia ini tak ada yang abadi
Bahagia dan derita
Adalah dua sisi dari koin yang sama
Begitu pula pertemuan dan perpisahan adalah dua sisi permainan kehidupan
Kini saatnya kita harus berjalan sendiri
Melangkah mengikuti takdir yang tlah tergariskan
Satu lagi kemesraan yang robek dalam gerimis kehidupan
Ketika canda tawa begitu berharga
Ketika dekapan pilu begitu mengenang
Ketika jemari tak sanggup lagi menggengam
Ketika rangkulan hanya melingkar kosong
Hanya lengan kehilangan
Dan kesendirian nan bisu
Akankah besok, besok, besok dan slamanya kita salalu mengenang ini ?
Akankah kebersamaan ini terulang kembali ?
Akankah awan cerah kembali memihak persahabatan kita ?
Sahabat, bukan waktu yang memisahkan kita,
Bukan pertengkaran yang memecahkan
Namun, kematianlah yang akan memudarkan persahabatan di antara kita.
KESETIMBANGAN HASIL KALI KELARUTAN
PERCOBAAN IV
KESETIMBANGAN HASIL KALI KELARUTAN
I. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk memahami sifat larutan jenuh, kelarutan suatu garam dalam pelarut air, dan menentukan hasil kali kelarutannya.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Reaksi kimia adalah perubahan spontan pereaksi menjadi hasil reaksi menuju kesetimbangan. Suatu kesetimbangan kimia mempunyai konstanta kesetimbangan yang nilainya bergantung pada suhu dan jenis kesetimbangan. Kegunaan konstanta kesetimbangan untuk mengetahui letak kesetimbangan, apakah dekat ke pereaksi ataukah ke hasil reaksi (Syukri, 1999).
Pada umumnya ketika suatu reaksi kimia berlangsung, laju reaksi berkurang dan konsentrasi pereaksi pun berkurang. Dalam banyak hal setelah waktu tertentu reaksi dapat berkesudahan, yaitu semua pereaksi habis bereaksi. Namun banyak reaksi tidak berkesudahan dan pada seperangkat kondisi tertentu, konsentrasi pereaksi, dan produk reaksi menjadi tetap. Reaksi yang demikian disebut reaksi reversible dan mencapai kesetimbangan. Pada reaksi semacam ini produk reaksi yang terjadi bereaksi membentuk kembali pereaksi. Ketika reaksi berlangsung laju reaksi ke depan (ke kanan), sedangkan laju reaksi sebaliknya bertambah, sebab konsentrasi pereaksi berkurang dan konsentrasi produk reaksi bertambah (Kopkhar, 1990).
Setelah keadaan setimbang dicapai, maka laju reaksi (ke kanan dan ke kiri) dan konsentrasi masing-masing zat tetap atau konstan, tetapi reaksi tidak berhenti. Reaksi masih terjadi ke kanan dan ke kiri. Konsentrasi konstan karena laju reaksi dari kanan dan kiri sama serta kesetimbangan ini disebut kesetimbangan dinamis.
Ciri umum sistem kesetimbangan sebagai berikut:
1. Sistem tidak memperoleh materi dari lingkungannya tanpa kehilangan (memberikan) materi ke lingkungan.
2. Sistem adalah dinamik. Dua proses yang berlawanan berlangsung pada saat yang sama.
3. Sifat yang dapat diukur dan diamati adalah konstan, sebab kedua proses berlangsung dalam laju yang sama, sehingga konsentrasi zat-zat konstan. Sifat ini disebut sifat makroskopik.
4. Pada suhu tertentu, kesetimbangan mencapai suatu nilai yang konstan dari ungkapan yang menyangkut konsentrasi zat-zat yang bereaksi.
5. Nilai yang konstan dari ungkapan yang berkaitan dengan konsentrasi dalam suatu sistem pada kesetimbangan merupakan ukuran sampai berapa jauh suatu reaksi berlangsung sebelum mencapi kesetimbangan.
6. Nilai yang konstan ini disebut tetapan kesetimbangan.
Jika harga laju reaksi konstan, maka akan diperoleh tetapan kesetimbangan (K). Konstanta kesetimbangan adalah hasil kali konsentrasi zat-zat di sebelah kanan dibagi hasilkali konsentrasi zat-zat di sebelah kiri dipangkatkan dengan koefisien masing-masing.( Kopkhar, 1990).
Definisi hasil kali kelarutan
Pada saat awal CuBr di masukan ke dalam air, maka kation Cu+ dan anion Br- belum terbentuk, dan dengan berlangsungnya proses pelarutan maka konsentrasi kedua ion tersebut akan meningkat. Proses disosiasi CuBr menjadi ion-ionnya dapat ditulis sebagai berikut:
CuBr (s) -> Cu+(aq) + Br-(aq)
Jumlah kation dan anion akan semakin meningkat sampai mencapai jumlah maksimum pada saat semua CuBr terlarut. Pada keadaan ini dimungkinkan ion Cu+ dan F- bisa bertumbukan satu sama lain membentuk CuBr.
Cu+ (aq) + Br-(aq) -> CuBr (s)
Sehingga dalam keadaan ini dua proses akan salaing berkompetisi yaitu reaksi disosiasi dan kebalikannya, pada saat inilah keseimbangan dinamis tercapai dan reaksinya dapat kita tulis sebagai:
CuBr (s) <-> Cu+ (aq) + Br-(aq)
Kita dapat menulis persamaan konstanta kesetimbangan pada reaksi diatas sebagai :
K = [Cu+][Br-] / [CuBr]
Perlu diingat bahwa CuBr adalah zat padat murni dan diangagap konsentrasinya adalah 1 maka persamaan diatas ditulis sebagai:
K = [Cu+][Br-]
atau biasa ditulis
Ksp = [Cu+][Br-]
Ksp disebut sebagai Konstanta hasil kali kelarutan atau biasanya disebut sabagai Hasil Kali Kelarutan. Jadi yang dimaksud dengan Hasil Kali Kelarutan adalah “ konstanta kesetimbangan zat ( garam atau basa) yang kelarutannya kecil di dalam air” ( Anonim1,2008).
Kesetimbangan dalam larutan
Misalnya kesetimbangan asam asetat dan ethanol membentuk Etil asetat dan air :
CH3COOH + C2H5OH CH3COOHC2H5 + H2O
Kalau jumlah masing-masing semula adalah a, b, c,dan d mol sedang volume campuran adalah V liter. Penambahan jumlah mol Etil Asetat dan air karena terjadinya reaksi antara asam asetat dan ethanol = x. Perubahan volume karena terjadinya reaksi ini dapat diabaikan maka konsentrasi masing-masing zat setelah terjadi kesetimbangan (Respati, 1992).
Kelarutan
Pengertian kelarutan dapat digunakan dalam beberapa paham. Kelarutan menyatakan pengertian secara kualitatif dari proses larutan. Kelarutan juga digunakan secara kuantitatif untuk menyatakan komposisi dari larutan. Suatu larutan dinyatakan merupakan larutan tidak jenuh jika solut ditambahkan untuk memperoleh berbagai larutan yang berbeda dalam konsentrasinya. Dalam banyak hal, ternyata proses penambahan solut tidak dapat berlangsung secara tidak terbatas. Suatu keadaan akan dicapai dimana penambahan solut pada sejumlah solvent yang tertentu tidak menghasilkan larutan lain yang mempunyai konsentrasi yang lebih tinggi. Pada keadaan ini, solute tetap tidak terlarut. Hingga demikian ada batas jumalah tertentu dari solut yang dapat terlarut. Hingga demikian ada batas jumlah dari solute yang dapat terlarut dalam jumlah solvent yang tertentu. Larutan yang dalam keadaan terbatas ini disebut larutan jenuh dan konsentrasi dari larutan jenuh disebut kelarutan dari sejumlah solute dalam jumlah solvent tertentu yang digunakan(Anonim2, 2009).
Jika larutan tak jenuh, maka solute yang ditambahkan nakan lenyap hingga diperoleh larutan jenuh. Jika larutan adalah jenuh, maka jumlah kelebihan solute akan tetap tak berubah. Dikatakan sistem dalam keadaan kesetimbangan yang dinamis. Dalam keadaan kesetimbangan, pelarut solute masih terjadi tetapi diimbangi terbentuknya endapan solute yang keluar dari larutan. Jumlah partikel solute yang masuk dalam larutan per satuan waktu sama dengan jumlah partikel solute yang meninggalkan (membentuk endapan) larutan persatuan waktu. Konsentrasi solute dalam larutan tetap dan jumlah solute dalam kelebihan tetap. Suatu larutan jenuh didefinisikan sebagai larutan yang dalam keadaan keseimbangan dengan solute yang berlebihan (Anonim2, 2009).
Konsentrasi dari larutan jenuh, yaitu kelarutan tergantung pada (1) sifat solvent, (2) sifat solute, (3) suhu, dan (3) tekanan. Dalam hal ini perlu diingat bahwa ada tiga interaksi yang penting selama proses pelarutan berlangsung. Partikel-partikel solut terpisah satu terhadap lain (ini memerlukan tenaga), partikel-partikel solvent didorong untuk menempati ruang antar solute (ini juga memerlukan tenaga), partikel-partikel solut(ini melepas tenaga). Peristiwa interaksi antara solute-solute, solvent-solvent dan solute-solvent berguna dalam membicarakan besarnya kelarutan. Meskipun demikian, seperti telah dibicarakan besarnya di muka, bahwa tendensi terjadinya perubahan spontan tidak hanya ditentukan oleh kesetimbangan tenaga tetapi juga oleh perubahan-perubahan entropi. Pelarutan akan sering terjadi karena entropi ini naik, meskipun interaksi solute-solvent tidak cukup menguntungkan untuk mengimbangi jumlah interaksi solute-solvent dan solvent-solvent (Anonim2, 2009).
Pengendapan
Salah satu penggunaan yang beguna dari hasil kelarutan adalah untuk meramalkan apakah pengendapan akan terjadi bila dua larutan dicampur. Dalam larutan jenuh dari suatu garam, hasil kali ion sama dengan KSP. Jika dua larutan ion-ion dari garam dicampurkan dan tenyata jika hasil kali ion melebihi Ksp, maka pengendapan akan terjadi (Anonim2, 2009).
III. ALAT DAN BAHAN
A. Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini meliputi : gelas piala 100 mL, erlenmeyer 100 mL, pipet volume (ukuran 5, 20, dan 25 mL), buret 50 mL, corong kaca.
B. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini meliputi : larutan jenuh MgCO3, CaCO3, BaCO3, larutan standar HCl 0,001 M, larutan standar NaOH 0,001 M, indikator fenol merah.
IV. PROSEDUR KERJA
1. Memasukkan larutan jenuh MgCO3 sebanyak 25 mL ke dalam erlenmeyer dengan menggunakan pipet gondok.
2. Menambahkan larutan HCl 0,001 M sebanyak 2,5 mL dengan menggunakan pipet gondok.
3. Menambahkan 20 ml Larutan NaOH 0,001 M dengan menggunakan pipet gondok.
4. Mencuci buret yang akan digunakan dengan aquades dan dikeringkan.
5. Mengis buret dengan larutan standar HCl 0,001 M.
6. Menambahkan indikator fenol merah ke dalam erlenmeyer.
7. Mentitrasi larutan di dalam erlenmeyer dengan larutan HCl 0,001 M dari buret sampai tepat terjadi perubahan warna yang konstan.
8. Menghentikan titrasi. Kemudian mencatat volume HCl yang diperlukan untuk titrasi.
9. Mengulangi titrasi sebanyak dua kali. Merata-ratakan volume HCl yang digunakan.
10. Melakukan prosedur yang sama juga untuk larutan CaCO3 dan BaCO3.
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil dan Perhitungan
1. Hasil
a. Larutan jenuh MgCO3
| No | Langkah Percobaan | Hasil Percobaan |
| 1 2 3 4 | Larutan MgCO3 sebanyak 12,5 mL dimasukkan ke dalam erlenmeyer dengan pipet gondok. Larutan HCl 0,001 M ditambahkan sebanyak 2,5 mL. Larutan NaOH ditambahkan sebanyak 5 mL, kemudian ditambahkan indikator fenol merah. Larutan standar HCl 0,001 M dimasukkan ke dalam buret. Larutan campuran hasil kerja (2) dititrasi dengan larutan HCl baku dari buret. Titrasi dihentikan ketika larutan telah berubah warna dari merah muda ke kuning muda. Volume HCl dicatat. | MgCO3 berwarna bening. HCl 0,001 M berwarna bening Larutan berwarna bening. NaOH 0,001 M berwarna bening + fenol merah = merah muda HCl berwarna bening Perubahan warna : merah muda – kuning muda V titrasi = 50 mL |
b. Larutan jenuh CaCO3
| No | Langkah Percobaan | Hasil Percobaan |
| 1 2 3 4 | Larutan CaCO3 sebanyak 12,5 mL dimasukkan ke dalam erlenmeyer dengan pipet gondok. Larutan HCl 0,001 M ditambahkan sebanyak 2,5 mL. Larutan NaOH ditambahkan sebanyak 5 mL, kemudian ditambahkan indikator fenol merah. Larutan standar HCl 0,001 M dimasukkan ke dalam buret. Larutan campuran hasil kerja (2) dititrasi dengan larutan HCl baku dari buret. Titrasi dihentikan ketika larutan telah berubah warna dari merah muda ke kuning muda. Volume HCl dicatat. | CaCO3 berwarna bening. HCl 0,001 M berwarna bening Larutan berwarna bening. NaOH 0,001 M berwarna bening + fenol merah = merah muda HCl berwarna bening Perubahan warna : merah muda – kuning muda Vtitrasi = 2,2 mL |
c. Larutan jenuh BaCO3
| No | Langkah Percobaan | Hasil Percobaan |
| 1 2 3 4 | Larutan BaCO3 sebanyak 12,5 mL dimasukkan ke dalam erlenmeyer dengan pipet gondok. Larutan HCl 0,001 M ditambahkan sebanyak 2,5 mL. Larutan NaOH ditambahkan sebanyak 5 mL, kemudian ditambahkan indikator fenol merah. Larutan standar HCl 0,001 M dimasukkan ke dalam buret. Larutan campuran hasil kerja (2) dititrasi dengan larutan HCl baku dari buret. Titrasi dihentikan ketika larutan telah berubah warna dari merah muda ke kuning muda. Volume HCl dicatat. | BaCO3 berwarna bening. HCl 0,001 M berwarna bening Larutan berwarna bening. NaOH 0,001 M berwarna bening + fenol merah = merah muda HCl berwarna bening Perubahan warna : merah muda – kuning muda Vtitrasi = 1,6 mL |
2. Perhitungan
a. Larutan jenuh MgCO3
Diketahui : Konsentrasi HCl yang digunakan untuk titrasi = 0,001 M
Volume HCl yang digunakan untuk titrasi = 50 mL
Jumlah mmol MgCO3 = x mmol
Jumlah mmol HCl yang ditambahkan =0,001 Mx2,5 mL
= 2,5x10-3 mmol
Jumlah mmol NaOH yang ditambahkan =0,001M x 5 mL
= 0,005 mmol
Jumlah mmol HCl yang digunakan saat titrasi
= N . Vtitrasi
= 0,001 mmol/mL x 50 mL
= 0,05 mmol
Ditanya : Konsentrasi MgCO3 dalam larutan jenuh ?
Jawab :
Reaksi 1
| | | MgCO3 | + | 2HCl | ® | MgCl2 | + | H2CO3 |
| mmol awal | : | x mmol | | 2,5x10-3 mmol | | | | |
| Bereaksi | : | x mmol | | 2x mmol | | | | |
| Sisa | : | - | | (2,5x10-3 – 2x) mmol | | | | |
Reaksi 2
| | | HCl | + | NaOH | ® | NaCl | + | H2O |
| mmol awal | : | (2,5x10-3-2x) mmol | | 0,02 mmol | | | | |
| Bereaksi | : | (2,5x10-3 – 2x) mmol | | (2,5x10-3 – 2x) mmol | | | | |
| Sisa | : | - | | (2,5x10-3 + 2x) mmol | | | | |
Reaksi 3
| | | NaOH | + | HCl | ® | NaCl | + | H2O |
| mmol awal | : | (2,5x10-3 + 2x) mmol | | (2,5x10-3 + 2x) mmol | | | | |
| Bereaksi | : | (2,5x10-3 + 2x) mmol | | (2,5x10-3+ 2x) mmol | | | | |
| Sisa | : | - | | - | | | | |
| (jumlah mmol NaOH) | = | (jumlah mmol HCl) | |
| (2,5x10-3 + 2x) mmol | = | 0,001 mmol/mL x 1,15 mL | |
| 2x | = | [(0,001 x 50) – 2,5x10-3] mmol | |
| X | = | [(0,001 x 50) – 2,5x10-3] mmol
| |
| X | = | 2,4 x 10-2 mmol |
Konsentrasi MgCO3 dalam larutan jenuh dalam molaritas adalah jumlah mol MgCO3 per liter larutan. Berarti kelarutan MgCO3 adalah :
| mmol/mL |
| 12,5 |
= 19,2 x 10-4 mmol/mL
= 19,2 x 10-4 mol/L
Ksp MgCO3
MgCO3 Mg2+ + CO32-
Ksp = [Mg2+] [CO32-]
= S . S
= S2
= (19,2 x 10-4)2
= 3,68 x 10-6
b. Larutan Jenuh CaCO3
Diketahui : Konsentrasi HCl yang digunakan untuk titrasi = 0,001 M
Volume HCl yang digunakan untuk titrasi = 2,2 mL
Jumlah mmol CaCO3 = x mmol
Jumlah mmol HCl yang ditambahkan = 0,001 M x 2,5mL
= 2,5x10-3 mmol
Jumlah mmol NaOH yang ditambahkan =0,001M x 5 mL
= 0,005 mmol
Jumlah mmol HCl yang digunakan saat titrasi
= N . Vtitrasi
= 0,001 mmol/mL x 2,2 mL
= 2,2x 10-3 mmol
Ditanya : Konsentrasi CaCO3 dalam larutan jenuh ?
Jawab :
Reaksi 1
| | | CaCO3 | + | 2HCl | ® | CaCl2 | + | H2CO3 |
| mmol awal | : | x mmol | | 2,5x10-3 mmol | | | | |
| Bereaksi | : | x mmol | | 2x mmol | | | | |
| Sisa | : | - | | (2,5x10-3 – 2x) mmol | | | | |
Reaksi 2
| | | HCl | + | NaOH | ® | NaCl | + | H2O |
| mmol awal : | : | (2,5x10-3 – 2x) mmol | | 0,02 mmol | | | | |
| Bereaksi | : | (2,5x10-3-2x) mmol | | (2,5x10-3-2x)mmol | | | | |
| Sisa | : | - | | (2,5x10-3+2x)mmol | | | | |
Reaksi 3
| | | NaOH | + | HCl | ® | NaCl | + | H2O |
| mmol awal | : | (2,5x10-3+2x)mmol | | (2,5x10-3+2x)mmol | | | | |
| Bereaksi | : | (2,5x10-3+2x)mmol | | (2,5x10-3+2x)mmol | | | | |
| Sisa | : | - | | - | | | | |
| (jumlah mmol NaOH) | = | (jumlah mmol HCl) | |
| (2,5x10-3 + 2x) mmol | = | 0,001 mmol/mL x 2,2 mL | |
| 2x | = | [(0,001 x 2,2) – 2,5x10-3] mmol | |
| X | = | [(0,001 x 2,2) – 2,5x10-3] mmol
| |
| X | = | -1,5 x 10-4 mmol |
Konsentrasi CaCO3 dalam larutan jenuh dalam molaritas adalah jumlah mol CaCO3 per liter larutan. Bararti kelarutan CaCO3 adalah :
| mmol/mL |
| 12,5 |
= -1,2 x 10-5 mmol/mL
= -1,2 x 10-5 mol/L
Ksp CaCO3
CaCO3 Ca2+ + CO32-
Ksp = [Ca2+] [CO32-]
= S . S
= S2
= (-1,2 x 10-5)2
= 1,44 x 10-10
c. Larutan Jenuh BaCO3
Diketahui : Konsentrasi HCl yang digunakan untuk titrasi = 0,001 M
Volume HCl yang digunakan untuk titrasi = 1,6 mL
Jumlah mmol BaCO3 = x mmol
Jumlah mmol HCl yang ditambahkan = 0,001 M x 2,5mL
= 2,5x10-3 mmol
Jumlah mmol NaOH yang ditambahkan =0,001M x 5 mL
= 0,005 mmol
Jumlah mmol HCl yang digunakan saat titrasi
= N . Vtitrasi
= 0,001 mmol/mL x 1,6 mL
= 1,6x 10-3 mmol
Ditanya : Konsentrasi BaCO3 dalam larutan jenuh ?
Jawab :
Reaksi 1
| | | BaCO3 | + | 2HCl | ® | BaCl2 | + | H2CO3 |
| mmol awal | : | x mmol | | 2,5x10-3 mmol | | | | |
| Bereaksi | : | x mmol | | 2x mmol | | | | |
| Sisa | : | - | | (2,5x10-3 – 2x) mmol | | | | |
Reaksi 2
| | | HCl | + | NaOH | ® | NaCl | + | H2O |
| mmol awal : | : | (2,5x10-3 – 2x) mmol | | 0,02 mmol | | | | |
| Bereaksi | : | (2,5x10-3-2x) mmol | | (2,5x10-3-2x)mmol | | | | |
| Sisa | : | - | | (2,5x10-3+2x)mmol | | | | |
Reaksi 3
| | | NaOH | + | HCl | ® | NaCl | + | H2O |
| mmol awal | : | (2,5x10-3+2x)mmol | | (2,5x10-3+2x)mmol | | | | |
| Bereaksi | : | (2,5x10-3+2x)mmol | | (2,5x10-3+2x)mmol | | | | |
| Sisa | : | - | | - | | | | |
| (jumlah mmol NaOH) | = | (jumlah mmol HCl) | |
| (2,5x10-3 + 2x) mmol | = | 0,001 mmol/mL x 1,6 mL | |
| 2x | = | [(0,001 x 1,6) – 2,5x10-3] mmol | |
| X | = | [(0,001 x 1,6) – 2,5x10-3] mmol
| |
| X | = | -4,5 x 10-4 mmol |
Konsentrasi BaCO3 dalam larutan jenuh dalam molaritas adalah jumlah mol BaCO3 per liter larutan. Bararti kelarutan BaCO3 adalah :
| mmol/mL |
| 12,5 |
= -3,6 x 10-5 mmol/mL
= -3,6 x 10-5 mol/L
Ksp BaCO3
BaCO3 Ba2+ + CO32-
Ksp = [Ba2+] [CO32-]
= S . S
= S2
= (-3,6 x 10-5)2
= 1,29 x 10-9
VI. PEMBAHASAN
Faktor-faktor yang penting dalam mempengaruhi kelarutan zat padat adalah temperatur, sifat dasar zat, dan hadirnya ion-ion dalam larutan. Kebanyakan zat, kelarutannya akan meningkat jika temperaturnya dinaikkan. Oleh karena itu, kebanyakan reaksi yang memerlukan kelarutan yang cepat seringkali menggunakan larutan panas.
Ksp merupakan perkalian konsentrasi ion-ion elektrolit yang sukar larut dalam larutan jenuhnya dipangkatkan dengan koefisiennya masing-masing. Ksp penting untuk diketahui agar kita dapat memperkirakan berapa banyak zat elektrolit yang harus dilarutkan agar memperoleh larutan jenuh.
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini ada tiga macam yaitu Magnesium karbonat (MgCO3), Kalsium karbonat (CaCO3) dan Barium karbonat (BaCO3). Larutan jenuh MgCO3 adalah larutan yang tepat akan mengendap apabila di dalamnya ditambahkan padatan MgCO3 dimana padatan tersebut tidak akan larut dan membentuk endapan kembali. Sedangkan larutan jenuh CaCO3 adalah larutan yang tepat akan mengendap apabila di dalamnya ditambahkan padatan CaCO3 dimana padatan tersebut tidak akan larut dan membentuk endapan kembali.
Larutan itu dititrasi dengan HCl. Volume HCl yang berlebih yang digunakan dapat diketahui dengan penetuan titik akhir titrasi. Pada percobaan yang dilakukan pada saat tertentu larutan tersebut berubah warna menjadi kuning muda. Perubahan ini diakibatkan karena perubahan pH larutan campuran yang sebelumnya lebih bersifat basa, namun setelah dititrasi dengan HCl, pH larutan menjadi berubah. Volume HCl yang digunakan pada percobaan ini yaitu untuk larutan jenuh MgCO3 sebanyak 50 mL, untuk larutan jenuh CaCO3 sebanyak 2,2 mL dan untuk BaCO3 sebanyak 1,6 mL.
Hasil kali kelarutan yang didapatkan pada larutan MgCO3 adalah 19,2 x 10-4 mol/L. Sehingga Ksp yang diperoleh sebesar 3,68 x 10-6, hasil Ksp ini lebih besar jika dibandingkan dengan Ksp yang terdapat pada literatur yaitu 3,5 x 10-8, dari perhitungan dapat diketahui bahwa larutan MgCO3 merupakan larutan lewat jenuh. Sedangkan Ksp CaCO3 sebesar 1,44 x 10-10, dimana hasil Ksp larutan CaCO3 lebih kecil dari buku literatur, yaitu 9 x 10-9. Sehingga larutan CaCO3 termasuk larutan kurang jenuh. Ksp BaCO3 sebesar 1,29 x 10-9, hasil Ksp ini lebih kecil jika dibandingkan dengan Ksp yang terdapat pada literatur yaitu 5,1 x 10-9, dari perhitungan dapat diketahui bahwa larutan BaCO3 merupakan larutan kurang jenuh.
Pada perhitungan hasil kali kelarutan untuk CaCO3 memberikan hasil minus yaitu -1,2 x 10-5, padahal hal tersebut tidak rasional, hal ini terjadi mungkin karena ada beberapa faktor yang mempengaruhinya, begitu pula dengan hasil kali kelarutan pada larutan BaCO3 adalah -3,6 x 10-5 yang juga memberikan hasil minus.
VII. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang kami dapat ambil dari praktikum kali ini adalah:
1.Kelarutan suatu larutan merupakan perbandingan antara mol zat dengan volume larutan dalam satuan molar.
2.Ksp larutan adalah hasil kali konsentrasi ion-ion yang masing-masing dipangkatkan koefisien reaksi dalam larutan yang jenuh pada suhu tertentu.
3.Keadaan jenuh merupakan suatu kondisi di mana zat pelarut tidak mampu lagi melarutkan zat terlarut yang ditambahkan.
4.Nilai Ksp hasil percobaan pada larutan MgCO3 adalah 3,68 x 10-6. Sedangkan Ksp pada literatur 3,5 x 10-8. Hasil Ksp MgCO3 lebih kecil dari Ksp pada literatur. Sehingga larutan ini termasuk larutan kurang jenuh.
5.Nilai Ksp hasil percobaan pada larutan CaCO3 adalah 1,44 x 10-10. Sedangkan Ksp pada literatur adalah 9 x 10-9. Hasil Ksp CaCO3 lebih kecil dari Ksp pada literatur. Sehingga larutan ini termasuk larutan kurang jenuh.
6. Nilai Ksp hasil percobaan pada larutan BaCO3 adalah 1,29 x 10-9. Sedangkan Ksp yang terdapat pada literatur yaitu 5,1 x 10-9, dari perhitungan dapat diketahui bahwa larutan BaCO3 merupakan larutan kurang jenuh.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim1.2008. Keseimbangan hasil kelarutan.
Diakses tanggal 29 Oktober 2010
Anonim2.2009.Kelarutan
Diakses tanggal 30 Oktober 2010
Kopkhar, SM. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Universitas Indonesia Press, : Jakarta.
Respati. 1992. Dasar-Dasar Ilmu Kimia. Rineka Cipta : Jakarta.
Syukri, S. 1999. Kimia Dasar 2. ITB : Bandung
Langganan:
Komentar (Atom)