Ku berjalan di tepi keramaian itu
Diriku terdiam dalam bimbang
Menatap lemparan bebatuan nan terbang bagaikan kapas-kapas hitam tertiup angin
Semakin ku langkahkan kakiku
Semakin jelas terdengar sumpah-sumpah serapah dari bibir-bibir mereka
Begitu pedih sukma ini
Tertampar batinku, menatap penerus-penerus bangsa nan begitu anarkis
Sobat,
Hanya inikah ilmumu ?
Belajar hanya untuk melempar batu
di tengah jembatan kau adu uratmu
di depan gedung-gedung itu kau adu ototmu
dimanakah otakmu ?
Wahai sang provokator
Sudah ?
Sudah puaskah kau pengaruhi penerus-penerus bangsa demi melepas amarahmu ?
Sobat,
Kita mahasiswa
Kita penerus bangsa
Banggakah kalian terhadap semua ini ?
Tak sadarkah kalian ?
Ini tlah mencoreng nama penerus bangsa
dimana ? dimana semangat pahlawan penerus bangsa ?
Lihatlah pendahulumu di tahun ’98 !
Mereka berdarah, berkorban
Tumbangkan rezim, tegakkan reformasi
Demi persaudaraan dan ketentraman kita
dan lihatlah dirimu
Kini kau berbuat anarkis, tanpa rasa kesabaran, hanya demi amarahmu
Hentikan.. .
hentikan semua ini
Ibu pertiwi sedang berduka
Lihatlah saudara-saudara kita nan menangis, menjerit dan tertatih-tatih
Mencari uluran-uluran tangan penerus bangsa
Namun apa ?
Semua hanya hampa
benar-benar hampa
dan Aku,
hanyalah serpihan penerus bangsa
nan ingin menjadi sebuah makna
dibalik kealfaan jiwa.
(By. Indry 2010)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar